Minggu, 30 Oktober 2022

                 KEADILAN HAMPA
         Karya: Mustofa khairurrahman 

Mentari pagi menampakkan dirinya
Bak kepulan api yang membakar raganya
Ingin rasanya ku berharap padanya
Tapi rasanya hampa yang akan ku rasa

Anak-anak kelaparan tunggang langgang
Ibu-ibu tak menentu nyari utangan
Kemiskinan semakin mencekam
Rakyat kecil menjadi korban 

Keadilan di hitung dengan uang
Kebenaran menjadi permainan
Rakyat kecil jadi bulan-bulanan kematian
Seperti inikah yang namanya keadilan

Selasa, 25 Oktober 2022

Miskin harta belum tentu membuat kita miskin ilmu

              MISKIN HARTA KAYA ILMU

Ketidakpunyaan harta bukan berarti tidak bisa bersekolah atau berkuliah. Karena sejatinya ilmu itu bukan dihitung dari uang akan tetapi dihitung dari seberapa kita niat untuk bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu tersebut.
      Kisah ini bermula dari seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana. anak tersebut bernama Mustofa khairurrahman yang sekarang sudah menjadi mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Nama panjang Mustofa khairurrahman dengan nama panggilan ifan, Cukup unik sih dengan nama yang kontroversi seperti itu. Biasanya kalau pas waktu sekolah aku biasa di panggil dengan nama Mustofa oleh guru-guruku dan entah kenapa guru-guruku memanggilku dengan sebutan nama yang demikian, entah itu karena awal nama panjangku Mustofa atau apa aku tidak tau. Padahal aku sudah menginformasikan bahwasanya nama panggilanku itu ifan “I,F,A,N”.
Tidak hanya di sekolah saja aku di panggil dengan nama Mustofa akan tetapi pas waktu pertama masuk kuliah sampai sekarang namaku tetap Mustofa di kalangan dosen-dosen. “ Nasib punya nama panggilan yang tak selaras dengan nama panjang “ ujarku dalam hati sambil mengelus dada. 
      Tak kenal maka tak sayang, maka dari itu aku akan mengenalkan diriku sebagai tokoh dari cerpen ini.
Nama Mustofa khairurrahman dengan nama panggilan ifan, saya berasal dari sumenep dan di Universitas Trunojoyo Madura saya mengambil jurusan atau prodi Sosiologi. Bukan tanpa alasan saya mengambil jurusan itu, akan tetapi karena saya suka berorganisasi dan suka berinteraksi serta berwawancara dengan masyarakat. Dan menurut saya sosiologi sangatlah penting bagi karakter watak seperti saya.
      Uang merupakan benda yang di gunakan sebagai alat tukar dalam masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Akan tetapi dalam mencari ilmu, uang adalah hal yang dapat di kesampingkan bagi saya.
Menurut saya uang bukanlah segalanya dalam mencari ilmu pengetahuan, karena saya sudah membuktikannya sendiri kalau hal tersebut tidaklah nyata. Pada waktu saya sekolah di tingkat Madrasah Tsanawiyah ( MTS ) sampai Sekolah Menengah Atas ( SMA ) saya berada di pondok pesantren. Menurut saya uang bukanlah segalanya, karena pada saat sekolah biasanya saya dikasih uang yang gak nentu, kadang dikasih uang kadang tidak. Walaupun saya berangkat dari pondok pesantren ke sekolah tidak membawa uang, saya rasa tidak masalah asalkan saya makan sebelum berangkat. dan biasanya kalau saya kelaparan dan kebetulan tidak punya uang, saya mencoba meminum air yang banyak agar bisa mengganjal rasa lapar saya. 
Tak terasa sudah saya belajar 6 tahun di pondok pesantren sekaligus sekolah saya yang di asuh oleh kiai yang sangat baik hati. Pada saat saya ingin berangkat Universitas Trunojoyo Madura tak lupa saya sowan dulu ke pesantren saya yang mana menurut saya itu adalah hal yang wajib yang menandakan bahwasanya saya tidak lupa dengan dimana tempat saya menuntut ilmu dan dimana ahlak saya dididik dan alangkah terkejutnya saya pada saat saya ingin berpamitan untuk langsung pulang karena pada waktu itu waktu sudah lumayan agak siang. Saya di kasih amplop berisi uang yang di kasihkan oleh pak kiai saya “ astaghfirullah “ujarku yang sontak langsung ingin mengembalikan amplop tersebut tapi di tolak oleh pak kiai saya. “ Kajejen been edissak ( untuk jajanmu di sana ) “ Dawuh beliau. Se habis pulang dari dalem pak kiai di pesantrenku saya langsung berfikir “ apakah pantas bagi saya untuk tidak belajar bersungguh-sungguh disana, sedangkan saya sendiri di kasih pesangon yang di kasih langsung oleh pak kiai, berarti kala  saya tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut disana sama halnya saja membohongi orang tua saya dan pak kiai saya” ujarku dalam hati. 
Pada saat pengumuman jalur pendaftaran SNMPTN atau SPANPTKIN  di Universitas Trunojoyo Madura dan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel saya langsung gercep ( Gerak Cepat ) untuk mendaftarkan diri saya. Akan tetapi tuhan berkehendak lain saya tidak diterima dalam dua Universitas tersebut dengan jalur SNMPTN ataupun SPANPTKIN. Saya tidak berputus asa dan kemudian saya mendaftarkan diri saya di jalur SBMPTN dan sekarang pilihan pertama saya adalah Universitas yang saya masuki sekarang ini yaitu Universitas Trunojoyo Madura dan alhamdulillah lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan walaupun harus membayar UKT 1jt per semester dan itupun sudah saya anggap murah di banding UKT teman-teman saya yang kebanyakan mendapatkan UKT kelas 6 ( 3jt ).
Saya sangat bersyukur kepada Allah karena saya masih diberi kesempatan untuk bisa belajar menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mana di luaran sana juga banyak anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi namun terhalang oleh biaya.
Pada saat belajar di Universitas Trunojoyo Madura tersebut memang harus banyak-banyak mengeluarkan uang. Mulai dari membayar UKT, makan setiap hari, membeli kebutuhan pribadi dan kebutuhan kampus serta printing tugas kuliah. akan tetapi semuanya kembali pada diri kita sendiri, kalau kita bisa mengirit uang kemungkinan 100k bisa untuk berhari-hari akan tetapi sebaliknya, jikalau kita mempergunakan uang hanya untuk berfoya-foya kemungkinan 100k itu buka hanya untuk 1 hari akan tetapi hanya dalam satu waktu.
      Mencari ilmu haruslah di kuatkan dengan niat karena walaupun kita susah dalam segi keuangan pasti tuhan akan memberikan kita jalan keluarnya karena tujuan kita adalah mencari ilmu. Berbalik arah dengan orang yang pergi ke sekolah atau kuliah hanya untuk gaya-gayaan atau pamer, yang hal itu hanya mentok ketika dia sudah pamer. ya sudah cukup karena tujuannya sudah tercapai.
Universitas Trunojoyo Madura menjadi saksi bisu bahwasanya di sini saya jarang makan karena irit uang akan tetapi hal itu tidak menyurutkan niat dan tekadku demi membanggakan orang tua saya dan tentunya keluarga-keluarga saya yang rela capek-capek demi membiayai perkuliahan saya. 
Janganlah berpegang pada prinsip “ Saya mendingan kerja saja karena saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk kuliah “ stop perkataan itu. Dan dulunya saya juga berfikiran seperti itu pas waktu SMA akan tetapi rasa ambisiusku dalam menuntut ilmu sangat tinggi hingga mengantarkanku dapat berkuliah di perguruan tinggi.
Ingat, bahwasannya menuntut ilmu di perguruan tinggi itu tidak mudah, banyak para remaja di luaran sana yang ingin sekali menuntut ilmu di perguruan tinggi akan tetapi terhalang ekonomi yang kurang memadai. Maka dari itu, kita sebagai orang yang sudah di beri kesempatan oleh tuhan untuk belajar di jenjang dunia perkuliahan jangan sia-siakan kesempatan tersebut dan ingatlah ketika apa motivasi kita sehingga kita ingin belajar di dunia perkuliahan. Ingat orang tua yang berperan di belakang kita sebagai penyokong uang dan doa yang sangat tulus dengan harapan ingin anaknya menjadi orang yang hebat. Mari sayangi orang tua kita yang sudah rela-relaan membiayai kuliah kita dan buktikan bahwasanya kita itu bisa untuk sukses.

Senin, 17 Oktober 2022

Karomah KH. Muhammad Khotib Bin Abdurrahiem

   KH.Muhammad Khotib Bin Abdurrahiem 
( Pediri Pondok Pesantren Tanwirul Hija Desa Cangkreng Kabupaten Sumenep )

    KH.Muhammad Khotib bin Abdurrahiem kerap di kenal dengan sebutan Kiai anom ( kiai muda ), Beliau lahir di desa Poreh kecamatan Lenteng kabupaten Sumenep pada tahun 1914 M dengan nama daging Abdurrazak, ayah beliau sudah merasakan kelebihan Abdurrazak kecil, untuk lebih menampakkan usia beliau di 15 tahun, beliau menimba ilmu di pondok pesantren Asta tinggi kebunagung Sumenep yang di pimpin KH Abd. Sudjak, lalu pindah ke pondok pesantren Annuqayah late dan ternyata benar, Abdurrazak muda menjadi santri kesayangan kyai di setiap beliau mondok. Meski usia beliau masih muda, tetapi beliau sering disuruh menggantikan kiai ketika berhalangan hingga di minta kiai pengasuh pondok pesantren At-Taufiqiyah Bluto untuk mengajar kesana sewaktu beliau sudah jadi menantu keluarga besar yang ada di cangkreng  ( rumah istri beliau ). Awalnya beliau menolak untuk menjadi guru di sana karena belia masih muda, beliau merasa tidak layak menjadi guru karena ilmunya masih kurang. Dan beliau bisa membantu ke pondok pesantren At-Taufiqiyah dengan syarat, beliau menjadi santri mukiman bukan sebagai guru ataupun belajar sekaligus mengajar.
    Setelah selesai menimba ilmu, beliau berkeluarga ( 1944 M ) ke desa Cangkreng kecamatan Lenteng kabupaten Sumenep dengan pilihannya Nyai. Hj. Raudlah binti H.Ishak. Dan beberapa waktu setelah beliau menikah, kemudian mendirikan pondok pesantren Tanwirul Hija pada tahun 1955 M dan terus berkembang. Beliau memiliki santri dari luar daerah, bahkan pulau jawa dan masih berjalan hingga saat ini. Beliau wafat pada tahun 1977 M. Setelah wafatnya beliau, banyak keluar pembicaraan tentang karomah atau tingkah laku beliau yang masih membekas di ingatan warga sekitar dan menjadi contoh tauladan yang baik bagi masyarakat terutama alumni. Seperti beliau tidak pernah marah sekalipun kepada santri-santri meskipun pernah seorang santri tertangkap basah mencuri buah-buahan milik beliau, bahkan beliau menyuruh memakan buah itu dan mendoakan supaya tidak mengurangi barikah ilmunya. 
Suara beliau tidak pernah nyaring pada setiap pengajian 
    Fakta lain yang tidak pernah terlupakan oleh santri beliau adalah ketika megisi pengajian suara beliau tidak pernah terdengar nyaring, padahal beliau berada di dalam rumah dan santri duduk di teras rumah, akan tetapi meskipun tidak terdengar nyaring, para santrt memahami semua pengajian beliau bahkan beberapa santrinya banyak menjadi ahli baca kitab, seperti KH. Abul choir Pondok pesantren sabilul muttaqin daramista sumenep, KH. Hasyim Pondok pesantren AL-Hasyimi poreh dan banyak santri-santri yang lainnya sehingga kebanyakan santrinya sukses menjadi kiai besar dan mendirikan Pondok pesantren di setiap daerah mereka, 
Mengetahui tamu yang akan berkunjung 
pada suatu hari akan tamu jauh dari pulau jawa, sebelum tamu itu datang beliau menyuruh santrinya, Kh. Syakur untuk menyembelih ayam, santri yang di suruh bertanya-tanya kepada beliau, kok tiba-tiba menyuruh menyebelih ayam, ada ya pak kiai ?. Lalu beliau menjawab, akan ada tamu dari jauh yang pastinya akan lapar karena menempuh perjalanan yang lama. Santrinya makin bingung benarkah ada tamu dari jauh dan siapa yang memberi tahu. Karena takdzimnya si santri kepada beliau kemudian si santri menyebelih ayam dan memasaknya sesuai kemauan. Tak berapa lama, ada dua tamu datang sowan ke beliau dan di suguhi masakan ayam yang telah di sembelih tadi. Dan santri itu tetap tidak percaya bahwa beliau sudah pernah tahu tanpa pemberitahuan lebih dulu dan itu bukan hanya terjadi sekali bahkan berkali-kali.
Berguru kepada Nabi Khidir A.S setiap malam 
    Kiai anom warga sekitar menyebutnya, karena di angkat derajatnya oleh Allah masih muda menjadi kiai. Karomah beliau yang lain adalah, menurut penuturan santri, setiap jam 2 malam beliau selalu minta pamit kepada santrinya untuk menemui tamu, Beliau berbicara di dalam dengan seseorang hingga subuh, karena penasaran salah satu santri dekatnya bertanya kepda beliau dan beliau menjawab bahwa yang berkunjung pada setiap malem jam 2 itu adalah Nabi Khidir A.S. 
Beliau bisa menghilang
    Karomah lain yang di kenal di masyarakat adalah beliau bisa menghilang dan itu terbukti ketika beliau di kepung oleh puluhan orang yang ingin menyakitinya, Karena waktu itu beliau mengkritik keras kepemerintahan desa sehingga beliau di kepung untuk di celakai, akan tetapi dengan izin Allah beliau tidak bisa terlihat oleh orang-orang yang ingin mencelakainya padahal berdiri diantara orang-orang yang mengepung itu. Waktu itu santri berjumlah 100 orang siap menjaga dan heranya hanya para santri yang hanya bisa melihat beliau. Beliau berpesan kepada santri-santrinya "Apapun yang kalian lihat jangan berbicara sedikitpun, kalau bisa masuk ke dalam pondok masing-masing, jangan lawan amarah dengan amarah yang ada nantinya akan ada pertumpahan darah disini karena setan telah menguasai kita". 
Jembatan roboh
    Di sore hari jembatan yang tidak jauh dari Pondok pesantren Tanwirul Hija tiba-tiba roboh seketika akibat air yang besar sehabis turun hujan. Bertepatan pada waktu itu para petani pulang dari sawah habis memanen padinya dan ada sekitar 15 orang meniti jembatan dan ada 7 orang pas berada tengah jembatan. Ketika jembatan itu roboh dengan otomati 7 orang itu juga ikut jatuh terjun ke dalam sungai bersama jembatan dan terhanyut mengikuti arus sungau. " Ya Allah, ayo tolong yang bisa berenang" Ucap warga dan ada juga yang menjerit histeris melihat kejadian tersebut. Sudah tidak ada harapan lagi bagi 7 orang itu. Dan tiba-tiba ada seperti orang terbang di atas air meraih ke 7 tangan orang tersebut kemudian membawanya ke pinggir pelengsengan sungai. Dengan tercengang kemudian Orang-orang berkumpul mendatangi 7 orang tersebut dan alangkah terkejutnya ternyata yang menolong ke 7 orang itu dengan terbang di atas air adalah Kiai anom, da alangkah heranynya lagi baju yang di pakai beliau tidak basah sedikitpun. Beliau hanya tersenyum melihat orang-orang yang keheranan. Dan herannya lagi orang-orang itu bukan malah menolong ke 7 orang tersebut akan tetapi malah bengong melihat sosok kiai anom yang menyelamatkan ke 7 orang tersebut mulai dari terbang di atas air sampai bajunya yang tidak basah sedikitpun. 
Hafal AL-Qur'an langsung dari Nabi Khidir A.S
    Tentang ilmu yang dimiliki oleh beliau ternyata banyak para santrinya yang bersaksi bahwa beliau Tahfidz yang berguru langsung kepada Nabi Khidir A.S setiap jam 2 malam sampai menjelang subuh. Maka dari itu pada setiap jam 2 malam beliau pamit pada santrinya untuk masuk ke dalam dan berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah Nabi Khidir A.S. Di sisi lain, para santri yang di tinggalkan ke dalam rumah tetap duduk memandangi kitab mereka hingga menjelang subuh dan tak beranjak dari tempat sebelum beliau menyuruhnya. 
Dawuh beliau yang masih di ingat oleh para santrinya
1.) "Tojuk pateppak, jhek agulien mabai bektona ajer, ben dileh la lastareh pah kaloar pa terteb, sareh barokanah guruh lebet pak dhepakna tanang"
Artinya "Duduk yang bener, jangan banyak bergerak saat belajar, kalau sudah selesai keluar dengan tertib, cari barokahnya guru lewat telapaknya tangan".
2.) "Maos bismillah tello kaleh, insyaallah barokah sadhejenah ilmu, hajat, tor sadheje se e kaniat bhedi ekabhulaghi"
Artinya "Baca bismillah 3 kali, insyaallah segala ilmu, hajat dan semua keinginan akan terkabul".

Sumber : Majalah An-Najmi edisi IV 
( Majalah SMA Tanwirul Hija )


Senin, 03 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan

TRAGEDI KELAM ( TRAGEDI KANJURUHAN MALANG )

    Stadion kanjuruhan merupakan sebuah stadion yang terletak di kecamatan kepanjen, kabupaten malang, jawa timur, Indonesia. Kapasitasnya berjumlah 42.499 penonton. Stadion ini merupakan kandang Arema FC yang bermain di liga 1 dan Persekam metro FC yang bermain di liga 3.
   Tanggal 1 oktober tepat malam minggu Arema FC sedang bertanding dengan persebaya surabaya di stadion kanjuruhan malang. Awalnya pertandingan masih berjalan dengan baik, akan tetapi karena akhir dari pertandingan berakhir dengan skor 2 untuk Arema FC dan skor 3 untuk Persebaya Surabaya para suporter Arema FC tidak terima dan langsung turun ke lapangan untuk melampiaskan kekecewaannya atas kekalahan tim yang di cintainya. Akhirnya pihak berwajib mengatasi para penonton dengan cara menembakkan gas air mata ke bawah tempat duduk penonton. Ratusan penonton pertandingan sepakbola Arema vs Persebaya di stadion kanjuruhan menjadi korban. Banyak kabar merebak, banyak asumsi dan saling menyalahkan.

   Di unggah melalui aplikasi Twitter, dengan nama akun @RezqiWahyu_05 , berikut ceritanya.
Assalamualaikum Sebelumnya saya turut berduka cita sedalam-dalamnya terhadap korban insiden yang terjadi di stadion Kanjuruhan pertandingan Arema vs Persebaya. Yang kedua syukur Alhamdulillah, saya di beri keselamatan sampai di rumah. Dan bisa menceritakan kronologi versi saya pribadi disini.
Disini saya akan coba menceritakan kronologi insiden yang di terjadi di Kanjuruhan, 1 Oktober 2022. Dari awal saya masuk stadion (kondisi pemain sedang pemanasan) semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00.
Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun. Yang ada hanya supporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya.
Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang.
Babak ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak golnya yang ke-3. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta. Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai supporter menontonnya.
Hingga peluit akhir dibunyikan, Arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan. Disinilah awal mula tragedi dimulai, setelah peluit dibunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu dan kecewa.
Pelatih Arema dan Manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter. Disisi lain, ada 1 orang supporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka.
Kemudian ada lagi beberapa oknum yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema, terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepada oknum2 tersebut.
Namun, semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.
Di ikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, dan para suppoter yang semakin tidak terkendali. Akhirnya pemain di giring masuk kedalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.
Setelah pemain masuk, supporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk ke lapangan.
Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para supporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, di pentung dengan tongkat panjang, 1 supporter di keroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya.
Tapi saat aparat memukul mundur supporter di sisi selatan, supporter dari sisi utara yang menyerang ke arah aparat.
Karena semakin banyaknya supporter yang masuk ke lapangan dan kondisi sudah tidak kondusif, aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suppoter yang ada di lapangan.
Silih berganti supporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara. Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah supporter.
Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah supporter, disetiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10.
Banyak ibu-ibu, wanita-wanita, orang tua dan anak-anak kecil yang terlihat sesak gak berdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion. Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet.
Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah. Sedangkan untuk keluar stadion pun gak bisa karena macet, penuh sesak di pintu keluar. Diluar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.
Dan sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan Supporter terhadap aparat yang dianggap mengurung kita didalam Stadion dengan puluhan gas air mata.
Dan terjadi beberapa tembakan gas air mata kembali diluar stadion. Lebih tepatnya di sekitar Tribun 2 Kanjuruhan. Kondisi luar stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam. Banyak supporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita. Supporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah. Batu batako, besi dan bambu berterbangan.
Pemilik akun tersebut mengaku sudah menjadi supporter Arema sejak tahun 2007. Dan hari Tragedi kemarin, menurutnya adalah titik terendahnya sebagai seorang supporter. Ia pun menyampaikan, kronologi tersebut ia ceritakan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap keluarga korban. Dan ia mendoakan semoga kejadian tersebut adalah terakhir di semua cabang olahraga dan hiburan, khususnya di sepak bola.
     Kejadian tersebut merupakan hal yang wajar pada setiap pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya, Akan tetapi kejadian pada malam tanggal 1 itu merupakan sejarah buruk baru bagi persepakbolaan Indonesia. Kejadian ini menjadikan pelajaran bagi persepakbolaan indonesia maupun dunia dan juga alasan FIFA melarang penggunaan gas air mata pada pertandingan sepakbola.

By : Mustofa khairurrahman Sosiologi 1D


Selasa, 27 September 2022

PESANTREN KU

SEJARAH PONDOK PESANTREN
TANWIRUL HIJA
Oleh : Musthofa khairurrahman


 Baik, sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah rela meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog saya dan saya harap kalian jangan pernah bosen ya ! Untuk mengunjungi blog saya. Selamat membaca 

   Pondok pesantren Tanwirul Hija terletak di kota sumenep kecamatan lenteng desa cangkreng yang tepat di timur kecamatan lenteng dan di apit oleh 4 desa, bagian barat desa cangkreng yang berbatasan langsung dengan desa poreh, bagian timur berbatasan dengan desa sendir, bagian utara dengan desa meddelan sedangkan bagian selatan berbatasan langsung dengan desa muangan. jarak antara desa cangkreng dengan kota sumenep masih berkisar 15km maka dari itu wajar saja jika pondok pesantren Tanwirul Hija disebut sebagai pondok pesantren yang berada di pelosok-pelosok. Tanwirul hija juga masih tercatat sebagai salah satu pesantren tertua di sumenep yang lahir pada tahun 1950M dan sekarang berumur kurang lebih 72 tahun.

Pondok pesantren Tanwirul Hija di dirikan pada tahun 1950 M oleh KH.Muhammad Khotib bin Abdurrahiem dan istrinya nyi Hj.Raudlahl binti H.Ishak yang pada waktu itu santrinya masih kurang lebih lima orang. diantaranya yaitu, KH. Moh. Ikhsan Lembung, KH. Abdurrahman Poreh, KH. Suwaid Pinggir Papas, KH. Abdul Gani Poreh dan K. Abdul Bari Poreh. 

 KH.Muhammad Khotib Bin Abdurrahiem 

KH.Muhammad Khotib bin Abdurrahiem kerap di kenal dengan sebutan Kiai anom ( kiai muda ). beliau di lahirkan di desa poreh pada tahun 1914M dari rahim seorang ibu yang sampai saat ini masih tidak diketahui namanya dan ayahanda Abdurahiem.
Semasa belajarnya, beliau menyatri di pondok pesantren asta tinggi kebunagung sumenep yang pada saat itu di asuh oleh KH.Abd sujak. Selanjutnya beliau menyantri di pondok pesantren Annuqayah late Guluk-guluk Sumenep yang di didirikan oleh KH.Moh.syarqawi pada tahun 1887.

Pada tahun 1944 M beliau menikah dengan nyi Hj.Raudlah yang kemudian pada tahun 1950 M berdirilah pondok pesantren Tanwirul Hija. Nama Tanwirul Hija berasal dari bahasa arab yang berarti" pencerahan akal " beliau mengambil nama tersebut bukan tanpa alasan, akan tetapi beliau menyesuaikan pada masyarakat yang waktu itu masih kental dengan tradisi agama hindu dan rasa trauma akibat kejamnya penjajahan dan dirasa perlu adanya pencerahan akal untuk lebih memahami agama Islam secara benar dan meninggalkan tradisi nenek moyangnya (agama Hindu) yang sangat bertentangan dengan hukum Islam, serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan itu dalam kehidupan. 

Di tahun 1955 M Pondok Pesantren Tanwirul Hija mulai Berkembang, kini jumlah santrinya kurang lebih ada 30 orang, baik itu dari pulau madura sendiri maupun dari pulau jawa.
Karena kian pesatnya perkembangan Pondok Pesantren Tanwirul Hija serta kebutuhan para masyarakat akan pentinganya pendidikan maka pada tahun 1962 M berdirilah Madrasah ibtidaiyah ( MI ) kepala sekolah pertamanya adalah KH. Zaidi Hasan yang berasal dari desa Poreh dan merupakan santri pondok pesantren Tanwirul Hija sendiri. Semuanya itu tak luput adalah hasil kerja keras serta gigihnya KH.Khotib dalam memajukan Pondok pesantren ini.

Tahun 1977 M adalah tahun dimana masyarakat desa cangkreng dan lebih tepatnya keluarga pondok pesantren Tanwirul Hija mengalami hal duka yang mendalam. Yang mana pada saat itu KH.Khotib meninggal dunia, lebih tepatnya hanya berpindah alam karena ungkapan meninggal dunia tidak pantas di ungkapkan kepada orang se alim beliau . sebelum wafat, beliau masih sempat mengumpulkan dewan guru dan tokoh masyarakat untuk memilih dan menunjuk pengganti beliau setelah wafat untuk meneruskan kepmimpinan lembaga pendidikan di pondok pesanten Tanwirul Hija ke depan. Dan dalam musyawarah tersebut beliau menunjuk menantu ponakan dari istri yang merupakan suami dari Nyi, Hj. Rumanah yaitu KH. Asy’ari bin Mustafa dengan wakilnya KH. Imam Mawardi bin H. Muhtar sebagai penerus dengan hasil kesepakatan bersama antara dewan guru dan tokoh masyarakat pada waktu itu.

Setelah KH.Khotib wafat lambat laun banyak santri yang izin pamit pulang untuk meneruskan syiar dan menebarkan agama islam di daerahnya masing-masing. Kemudian banyak santrinya yang mambangun pondok pesantren seperti halnya KH.abul khoir yang membangun Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin di jambu dan KH.Rasyid yang membangun Pondok Pesantren Ar-Rasyidin di desa poreh, serta banyak lagi para santrinya yang tersebar di segala penjuru.
Walaupun pada akhirnya tidak ada satupun yang menjadi santri mukim pada saat itu tidak mematahkan semangat KH.Asyari dan KH. Imam Mawardi yang telah di amanahi oleh KH.Khotib. pada tahun 1980 M kemudian di dirikanlah Raudhatul Athfal ( RA ) pendidikan formal untuk anak anak di bawah umur. 

Demi semakin mengkukuhkan keberadaan pondok pesantren Tanwirul Hija, pada tahun 1989 M. Dibentuklah yayasan Tanwirul Hija yang langsung mendapat ijin penyelenggaraan dari pihak notaris. Dan pada tahun 1990 di dirikanlah pendidikan yang lebih tinggi yaitu, madrasah Tsanawiyah ( MTS ) pendirian ini tak luput juga karena usulan dari masyarakat karena kebutuhan pendidikan untuk anak-anak mereka. Dan pada tahun 1997 Pondok Pesantren Tanwirul Hija kemudian mendirikan TKA/TPA yang juga di praksarai oleh putra pertama beliau yaitu, K.Ahmad dumairi Asy'ari setelah pulang dari menimba ilmu di IAIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta.

           KH.Ahmad Dumairi Asy'ari S.Ag

Pada tahun 2002 KH.Asy'ari wafat pada saat haflatul imtihan dan wisuda purna siswa dan kepemimpinan Pesantren Tanwirul Hija kemudian di pimpin oleh Putra pertama dari KH.Asy'ari yaitu, K.Ahmad dumairi Asy'ari - Sekarang. Beliau menimba pendidikan formal Madrasah ibtidaiyah di Tanwirul Hija kemudian Ke Pondok Pesantren Annuqayah late dan di lanjutkan kuliah di IAIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta.
Semenjak kepemimpinan beliau, beliau di bantu oleh guru serta para saudaranya. Kemajuan demi kemajuan pesat dan pada Tahun 2006 kemudian berdirilah Sekolah Menengah Atas ( SMA ) hal tersebut juga tak luput dari kepiawaian beliau dan usulan dari para masyarakat, dan kemudian di angkatlah KH.Imam Hendriyadi bin KH.Zarkawi zaen ( seorang tokoh kiai di desa cangkreng sekaligus pengasuh pondok pesantren AL- Ifadah )

33 Tahun sudah Tanwirul Hija masih fakum dari keberadaan santri mukim, akan tetapi di kepemimpinan KH.Ahmad Dumairi Asy'ari yang di bantu oleh istrinya Fitriyatus Sholehah, sekarang santi mukim mulai hidup kembali dengan perlahan, dan  pada Tahun 2010 Pondok Pesantren Tanwirul Hija sudah resmi menerima santri mukim kembali dan para masyarakatpun berbondong-bondong memasrahkan anaknya di Pesantren Tanwirul Hija, baik dari kalangan masyarakat desa cangkreng sendiri sampai luar pulau daerah sumenep seperti kangean, manding dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu KH.Ahmad Dumairi Asy'ari juga menyediakan pelajaran yang sama halnya dengan santri mukim yakni Madrasa awaaliah dan Wustho, pendidikan tersebut di khususkan untuk belajar pelajaran kitab² dan pelajaran klasikal lainnya . Madrasah tersebut tidak hanya bisa di ikuti oleh santri mukin saja melainkan santri non mukim ( colokan ) juga bisa mengikutinya.

Pada Tahun 2012 karena melihat masyarakatnya akan kekurangan pendidikan di kalangan anak² di bawah umur, maka dengan sigap KH.Ahmad Dumairi Asy'ari kemudian mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) sehingga bertambahlah pendidikan di Tanwirul Hija pada tahun itu. 

Dari sejarah berdirinya hingga perkembangan dari generasi ke genarasi sampai sekarang. Pondok pesantren Tanwirul Hija mengalami kamajuan yang pesat. Sampai saat ini, sekitar 7 jenjang pendidikan telah di kelolanya. Kepemimpinan K. Ahmad Dumairi Asy’ari, S.Ag membawa nuansa baru bagi pondok pesantren Tanwirul Hija. Bukan hanya dalam bidang pendidikan formal non formal saja yang mengalami perkembangan pesat. Dari sektor sarana prasarana juga tidak kalah mengalami perkembangan serupa. Seperti yang terlihat sekarang ini, fasilititas pembangunan yang sudah memadai dan tidak kalah megah menterengnya dari beberapa pondok pesantren lainnya, dimana hal tersebut juga dibarengi dengan ketersedian sarana prasarana guna menunjang keberadaan pendidikan yang dikelola.

Sumber : Penulis Samsul Supid 
"SEJARAH PONDOK PESANTREN TANWIRUL HIJA | PONDOK PESANTREN TANWIRUL HIJA" https://ponpestanwirulhija.wordpress.com/2013/09/23/sejarah-pondok-pesantren-tanwirul-hija/

Terus ikuti Blog saya ya, karena Next saya akan mengulas kisah karomah dari KH.Khotib Bin Abdurrahiem Yang sekaligus Pediri Pondok Pesantren Tanwirul Hija serta Pediri NU Di kecamatan Lenteng

 
                    


Kamis, 22 September 2022

Kota Sumekar

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kasih karena telah menyempatkan waktunya untuk mengunjungi blog saya, jika ada saran dan komen tulis di kolom komentar ya !
Selamat membaca


                THE SOUL OF MADURA

https://www.harianbhirawa.co.id/bantuan-rumah-layak-huni-bakal-diterima-1-750-warga-kabupaten-sumenep/

Mengapa sumenep mempunyai julukan THE SOUL OF MADURA?
Kata "Soul" berarti jiwa, yang merupakan inti dari kehidupan dan Berarti sumenep adalah jiwa dari madura, lantaran sumenep di jadikan cermin, baik itu dari segi adat, budaya, religi, dan sebagainya. 

A. Sejarah Sumenep ( Madura )

Berbicara tentang sejarah sumenep, berarti juga berbicara tentang sejarah madura, karena inti pulau madura adalah pulau sumenep

Ada legenda yang mengatakan bahwa pulau madura berawal dari kisah kerajaan yang tepat di sebelah selatan pulau sumenep namanya kerajaan medangkamulan. pada saat itu anak sang raja hamil hanya karena bermimpi melihat bulan purnama yang lama kelamaan masuk kedalam diri puteri raja tersebut, ketika terbangun sang putri terkejut karena mendapatkan perutnya yang sudah buncit.
Seketika sang raja murka ketika mendengar puterinya kedapatan hamil di luar nikah, lalu sang raja memerintahkan kepada sang patih untuk membawa puterinya ke pulau sebrang dan membunuhnya di pulau tersebut, tetapi sang patih tidak membunuhnya di karenakan rasa kasihannya yang amat besar.
Kemudian dari kehamilan tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki yang di beri nama raden sangara. 
Pulau tersebut di namakan pulau madura karena pada saat raden sangara dan ibunya pertama kali sampai di pulau tersebut ia tiba di tanah yang lapang.Dalam bahasa Madura tanah lapang disebut ra-ara atau hampir sama dengan ara-ara dalam bahasa Jawa. Di sudut tanah yang lapang kemudian raden sangara melihat sebuah pohon yang di kerumuni lebah dan dengan anehnya lebah-lebah tersebut pergi seolah-olah membiarkan raden sangara mengambil madu tersebut. Maka pulau tersebut di namakan pulau madura "Madu era " yang berarti madu di tanah lapang.

Asal mula pulau sumenep ( Madura ) ini bermula dari seorang raja yang bernama Arya Wiraraja.
Disebutkan bahwasanya Arya Wiraraja merupakan seorang penasihat sekaligus kepercayaan Raja Kertanegara dari Singasari.
Saat itu, Kertanegara bertekad untuk melakukan penyerangan ke Sumatera, yaitu Kerajaan Sriwijaya. Namun, Arya Wiraraja memberikan pandangan yang berbeda dengan kemauan Kertanegara, Arya Wiraraja menyarankan raja untuk menunda serangan, atau mengirim telik sandi terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan musuh.
Selain itu, Arya Wiraraja juga menyarankan agar Kertanegara mengantisipasi kemungkinan serangan dari Tartar, karena Kertanegara telah menghina utusan Kubilai Khan.
Ternyata usulan Arya Wiraraja itu membuat Kertanegara marah. Sang raja lantas “menyingkirkan” Wiraraja dengan menjadikannya Adipati di Madura Timur atau Sumenep sekarang. Penunjukan Arya Wiraraja menjadi Adipati Sumenep terjadi pada 31 Oktober 1269, yang saat ini ditetapkan sebagai hari jadi kota sumenep

B. Adat dan Budaya Sumenep
Berbicara tentang adat sumenep tentu juga membicarakan adat madura, tapi ada beberapa adat yang memang khas dari sumenep. Berikut adalah beberapa adat dan budaya di sumenep

1. Tembang macapat ( Macopat )
Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat di Madura lebih dikenal dengan istilah macopat yang mana pembacaan tembangnya lebih mengutamakan pada cengkok, karena memang tradisi ngejung lebih diperindah oleh cengkok pada sebuah syair atau kata-kata, dan hal ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang Madura di bagian timur (Sumenep).

2. Nyadher ( Petik Laut )

Nyadher ( Petik laut ) di istilahkan sebagai ucapan syukur para nelayan kepada laut
Petik laut merupakan warisan leluhur yang di sebut sedekah kepada laut. Yang mana selama satu tahun telah menjadi tempat mereka mencari rezeki. 
Biasanya petik laut ini di adakan tiap tahunnya oleh masyarakat 

3. Hadrah 

Mungkin tidak asing dengan kata Hadrah, ya, karena kesenian hadrah sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad.
Hadrah adalah sebuah musik yang bernafaskan Islami yaitu dengan melantukan Sholawat Nabi diiringi dengan alat tabuhan dengan alat tertentu. Hadrah menjadi kesenian islami yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Dan sekarang, kesenian hadrah termasuk kesenian yang masih eksis di kalangan masyarakat sumenep.

4. Tandhe' ( Topeng )
Kesenian di Sumenep Madura yang cukup terkenal hingga ke Jepang adalah kesenian Topeng ( Tandhe' ). Tradisi seni ini memiliki kesamaan dengan ludruk, cuma perbedaannya terletak pada aktor yang menggunakan topeng saat pentas. Sedangkan cerita yang diangkat seputar kerajaan yang di dalamnya juga terdapat mitos-mitos.
Topeng terkenal sampai ke Jepang, karena pada tahun 80an, seniman topeng Sumenep pernah mempromosikan kesenian ini ke negara Sakura tersebut. Akhirnya, kesenian ini pun populer sehingga layak menjadi ikon kebudayaan dari Indonesia

5. Saronen

Saronen merupakan kesenian populer yang berasal dari Sumenep Madura. Tradisi ini masuk ke dalam kategori seni musik, yang cara pementasannya dengan cara berjalan kaki dan dilakukan secara bersama-sama. Alat musik Saronen bermacam-macam dan termasuk alat musik tradisional seperti ghung, gendhang, kenong dan korca.
Sejatinya, Saronen sendiri merupakan sebuah alat musik tiup yang mirip dengan terompet. Akan tetapi pada bagian ujungnya terdapat motif seperti kumis, yang jika pemain meniupnya maka bibir tidak akan terlihat. Alat musik ini terbuat dari kayu jati sehingga lebih awet dan alunan suaranya lebih merdu.

6. Ludruk
Kesenian ini berbentuk drama tradisional yang dimainkan di atas pentas. Sedangkan cerita yang menjadi alur pementasan, biasanya seputar sejarah yang masih terkait dengan kerajaan-kerajaan di nusantara.
Kesenian ludruk terbagi menjadi tiga sesi yaitu sesi pertama acara pembukaan atau istra yang berisi tari-tarian tradisional. Sedangkan sesi kedua adalah acara lawak dan yang terakhir baru penceritaan yang masuk ke dalam acara inti. Karena acaranya cukup banyak, biasanya ludruk baru selesai hampir dini hari dan dimulai dari jam 22.00.

7. musik tong tong
Musik tong tong merupakan jenis musik kuno dari madura. Kata tong tong berasal dari tiruan bunyi yang menyebut salah satu kelompok alat musik. Istilah bahasa madura perreng atau bambu

8. Kerrapan sapeh ( Kerapan sapi )

Kerapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.


Sumber: wawancara dari guru sejarah MTS Tanwirul hija sumenep dan memang ahli di bidang sejarah ( Bapak Homaidi ) dan juga sumber dari http://sumenepkab.go.id

Sekian dari saya dan mohon maaf jika ada salah kata dan salah ucap karena kita sebagai manusia tidak pernah luput dengan yang namaya kesalahan.
Terima kasih.
March 21, 2022By

8 Kesenian di Sumenep Madura yang Masih Lestari

Sumenep merupakan sepetak tanah di Pulau Madura yang menjadi gudangnya kebudayaan. Di Kabupaten yang berjuluk Sumekar ini, tumbuh subur aneka jenis kesenian tradisional yang masih lestari hingga saat ini. Maka dari itu, kami perlu untuk mengupas kesenian di Sumenep Madura tersebut, supaya pembaca bisa mendapatkan pengetahuan detail darinya.

Untuk itu, di artikel berikut ini, terdapat beberapa jenis kesenian yang populer di Kabupaten Sumenep Madura. Sebagian di antaranya telah menjadi ikon Bumi Garam yang pementasannya dilakukan setiap saat. Ini kesenian-kesenian yang dimaksud:

1. Saronen

Saronen merupakan kesenian populer yang berasal dari Sumenep Madura. Tradisi ini masuk ke dalam kategori seni musik, yang cara pementasannya dengan cara berjalan kaki dan dilakukan secara bersama-sama. Alat musik Saronen bermacam-macam dan termasuk alat musik tradisional seperti ghung, gendhang, kenong dan korca.

Sejatinya, Saronen sendiri merupakan sebuah alat musik tiup yang mirip dengan terompet. Akan tetapi pada bagian ujungnya terdapat motif seperti kumis, yang jika pemain meniupnya maka bibir tidak akan terlihat. Alat musik ini terbuat dari kayu jati sehingga lebih awet dan alunan suaranya lebihDulunya, orang memainkan musik tong-tong dengan cara tradisional. Yaitu, mereka berjalan keliling kampung sembari memainkan alat musik dari balok kayu, yang bagian tengahnya dilubangi agar bisa mengeluarkan suara saat dipukul. Alat musik ini pula yang masyarakat memfungsikannya untuk mengabarkan terjadinya kebakaran maupun pencurian.

Di Sumenep Madura, kesenian musik tongtong mulai bergeser. Sekarang, musik tongtong telah lebur dengan musik saronen seperti gendang, kolenang dan seruling. Bahkan di parade musik ul daul, musik tong tong mulai terelaborasi dengan alat musik modern seperti keyboard danDulunya, orang memainkan musik tong-tong dengan cara tradisional. Yaitu, mereka berjalan keliling kampung sembari memainkan alat musik dari balok kayu, yang bagian tengahnya dilubangi agar bisa mengeluarkan suara saat dipukul. Alat musik ini pula yang masyarakat memfungsikannya untuk mengabarkan terjadinya kebakaran maupun pencurian.

Di Sumenep Madura, kesenian musik tongtong mulai bergeser. Sekarang, musik tongtong telah lebur dengan musik saronen seperti gendang, kolenang dan seruling. Bahkan di parade musik ul daul, musik tong tong mulai terelaborasi dengan alat musik modern seperti keyboard dan gitar. gitar. merdu.

Senin, 05 September 2022

Seorang Maba Dari Sumenep

      SEORANG MABA DARI SUMENEP

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada kalian yang telah mengunjungi blog saya, jika ada saran dan kritik mohon untuk di tuliskan di kolom komentar ya

Pertamanya saya mendaftar di dua univ 1. Uin sunan ampel dan 2. Universitas Trunojoyo Madura.
Pada suatu hari saya sowan ke kiai saya, guna mencari petunjuk PTN mana yang sekiranya baik untuk saya kedepannya dan pada saat itu saya sudah mendaftar di dua univ, Jalur SNMPTN (UTM) Dan jalur SPAN PTKIN (Uin Sunan Ampel). dan kata kiai saya, "jangan di sunan ampel surabaya, di sana pergaulannya terlalu bebas, cari daerah madura saja soalnya kamu masih jenjang S1 dan masih baru kenal yang namanya perkuliahan".

Dari dua univ tersebut tidak ada yang menerima saya di jalur SNMPTN maupun SPAN PTKIN tapi saya tidak putus asa, saya mengikuti jalur SBMPTN dan sekarang pilihan pertama saya di UTM dan Alhamdulillah di terima. 

Pada saat hari pertama ospek univ saya kagum akan banyaknya maba pada tahun 22 dan katanya, maba 22 menembus rekor dari maba² sebelumnya.

Tak terasa ospek univ sudah terlewati sekarang sudah memasuki ospek fakultas, semakin banyak relasi yang aku temui dan saya semakin kagum bahwasanya kampus UTM ini dikenal mulai dari ujung barat Indonesia hingga ujung timur Indonesia mulai dari Papua, aceh, sulawesi, sumatra serta berbagai provinsi² dan kota² lainnya berkumpul guna belajar bersama dan mencari ilmu di kampus Universitas Trunojoyo Madura.

Ospek Fakultas sudah usai, kini saya telah memasuki ospek terakhir, yaitu ospek prodi, dari sini saya menggali banyak relasi dan tau apa itu arti ke toleransian dalam beragama, karena kebetulan teman saya non islam pada saat itu. 

Pada hari senin tanggal 22 Agustus 2022 perkuliahan sudah di mulai, kini saya resmi menjadi Mahasiswa sekaligus hari pertama Mengikuti mata kuliah sebagai Mahasiswa. 
di hari pertama masuk kuliah, tentu sangat semangat bagi saya untuk mengikuti mata kuliah. dan saya rasa semua dosennya itu  ramah dan baik². dan Alhamdulillah hari demi hari bisa beradaptasi dalam hal lingkungan maupun pertemanan. 

Mungkin hanya ini sekilas cerita tentang sebelum dan waktu saya menjadi mahasiswa baru di Universitas Trunojoyo Madura. mungkin kalau ada salah kata dan salah ucap dari saya, saya minta maaf yang se besar besarnya 

Sekian terima kasih.
  
                         Musthofa khairurrahman
                                             Sosiologi 1D

Selasa, 30 Agustus 2022

Anak Petani Dari Ujung Timur Madura

             anak seorang petani

Dulu Pada tanggal 17 Mei 2004 di sumenep telah lahir seorang anak laki laki yang hidup dari kalangan keluarga yang sederhana , anak yang selalu bercita cita ingin membahagiakan orang tuanya dan memberangkatkannya ke tanah suci. Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita masih bisa mencoba, maka cobalah seberat apapun tantangan itu, karena Allah maha mengetahui tentang semua yang di lakukan oleh hambanya 

kisah ini bermula dari seorang anak Laki-Laki yang bisa di bilang semangat dalam mencari Ilmu, di dalam kelas tepatnya di sekolah MI Tanwirul hija desa cangkreng kabupaten Sumenep anak ini belajar mencari ilmu. 
dengan hanya bermodal semangat dan rajin dalam mecari ilmu Alhamdulillah anak ini tidak pernah turun dari rangking 3 besar. 

sekarang, anak ini sudah belajar di bangku kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTS) makin banyak relasi dan pengalaman yang bertambah, makin semangat juga ia berfastabiqul khairat

Tepat pada kelas VII ini juga dia mulai memasuki dunia pondok pesantren, Pesantren di anggap baik olehnya karena di pesantren sholatnya bisa terjaga serta bisa menambah dan memperdalam ilmu agama islam 

tak terasa 3 tahun sudah berlalu , sekarang anak itu sudah beranjak di kelas 10 Sekolah menengah atas (SMA)
dari kelas 10 inilah dia mulai mengenal yang namanya "ORGANISASI" organisasi extra maupun intra sekolah, kecamatan, kabupaten dia ikuti, sehingga berkat ilmu yang dia peroleh melalui organisasi, dia cukup menjadi anak yang aktiv (aktivis) di sekolahnya. Sehingga cukup banyak guru yang kagum akan skil dan kualitasnya.

Tak terasa dunia putih abu² ini akan dia tinggalkan dan otomatis dia juga akan berpamitan kepada pak kiai untuk berhenti mondok.
dengan berat hati, dia berusaha bisa untuk meninggalkan pondok pesantren serta sekolah yang di cintai.

ada satu dawuh yang dia ingat dari pak kiai "sengak yeh, gunain bektonah, reng nyareh elmoh reh tak gempang, bennyak cobenah , se penting pole jegeh bejengah, dunia loar reh bebas"
"Ingat ya, gunakan waktumu, orang mencari ilmu itu tidak mudah, banyak cobaannya, yang terpenting lagi jaga sholatmu, dunia luar itu bebas"

Ketika hendak memasuki dunia perkuliahan dia juga sempat berpamitan kepada kiainya dan di kasih pesangon dan pak kiai juga berdawuh
"sengak pa ongguen a kuliah dan gunaen bektonah, ka nisereh reng toanah se nyareh pesse edinnak" 
"ingat bersungguh-sungguhlah ber kuliah dan gunakan waktumu, kasihani orang tuamu yang mencari uang disini" 

Itulah sedikit kisah singkat seorang anak dari sosok ayah Guru, walaupun ayahnya guru, tapi dia lebih suka di panggil anak seorang petani.

Sekian terima kasih.

                     By:Musthofa khairurrahman
                                              Sosiologi 1D

Sabtu, 27 Agustus 2022

             Catatan pena seorang santri

Di kala ayam berkongkok
Para santri sudah menempatkan dirinya dalam Musholla
Tak kenal kantuk
Demi mengharap ridhonya sang pencipta
Lembar demi lembar Al-Qur'an di buka
Di lantunkan dengan nada yang menggema
Menggetarkan se isi musholla

Lapar, lelah, capek adalah kebiasaan seorang santri
"Kami seorang santri tidak butuh makam banyak"
"Kami seorang santri tidak perlu baju bagus"
"Kami seorang santri tidak ingin hidup manja"
Yang kami butuhkan
Yang kami perlukan
Yang kami inginkan
Hanyalah ridho sang kiai dan Ridho Allah semata

Dokumentasi 
                        
                  By: Musthofa khairurrahman 
                             Sosiologi 1D

Teguhkan jadi Organisasi Berdampak, UKMF FKI Al-Azzam Menggelar Kajian dan Praktek Shalat Jenazah

Bangkalan,  Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Forum Kajian Islam (FKI) Al-Azzam, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FIS...